• Pilihan

    Membongkar Adat Lamo Pusako Usang - 100

    kerinci

    Oleh: H. Aulia Tasman

    Kerajaan Palembang tidak pernah surut niatnya untuk menguasai Alam Kerinci semenjak dari zaman kerajaan Sriwijaya, sehingga sampai berakhirnya kerajaan besar ini hanya Kerinci Rendah yang dapat ditaklukkan tidak dengan Kerinci Tinggi. Namun setelah bubarnya kerajaan Sriwijaya beralik menjadi Kerajaan Palembang, pada suatu kesempatan mencoba kembali untuk menaklukkan Kerinci Tinggi dengan mencoba menaklukkan daerah ini dengan menguasai terlebih dahulu daerah Kerinci Tinggi, usaha tersebut gagal dalam pertempuran yang cukup dahsyat di daerah Bukit Malegan (dekat Pulau Sangkar), pertumbahan daerah yang sangat memilukan hati tersebut dikenang oleh masyarakat setempat sebagai “Telago Darah”. Sebagian kecil saja pasukan kerajaan Palembang yang mampu kembali ke Palembang. Raja kerajaan Palembang (Sultan Jawa Menteri) tidak puas dengan keadaan tersebut sehingga memutuskan untuk menyerbu kembali kerajaan Jerangkang Tinggi (Pulau Sangkar – Muak sekarang) dengan taktik peperangan yang berbeda yaitu dengan taktik gerilya tidak mengangkat senjata secara langsung. Sesampai di daerah kerajaan Jerangkang Tinggi, tanpa sepengetahuan Sigindo Batinting (pimpinan wilayah Jerangkang Tinggi), pada suatu kesempatan kelengahan penduduk dan pimpinan wilayah Jerangkang Tinggi, pasukan raja Palembang menyusup secara diam-diam, kemudian menunggu kesempatan terbaik untuk menunggu Sigindo Batinting dalam keadaan lengah, namun kondisi wilayah yang tidak mendukung mereka berlama-lama untuk berada diwilayah ini, kesempatan yang mereka dapat adalah menawan Istri Sigindo Batinting (Puti Unduk Pinang Masak) yang sedang hamil tua beserta beberapa pasukan kerajaan dijadikan tawanan dan dibawa menuju Palembang. Tujuan utama dari menawan isteri Sigindo Batinting agar beliau dapat menyerahkan diri dan menyatakan tunduk dengan Kerajaan Palembang.

    Sesampai di daerah Bukit Siguntang-guntang Puti Unduk Pinang Masak melahirkan anak laki-laki. Namun karena merasa keturunan dari raja Pagarruyung, beliau berusaha untuk melepaskan diri dari pasukan raja Palembang. Pada suatu kesempatan kelengahan pasukan raja Palembang dalam menjaga tawanan tersebut diambillah kesempatan untuk melarikan diri bersama dengan pasukan tawanan lain, namun anak yang baru dilahirkan tidak sempat dibawa serta. Puti Unduk Pinang Masak terus lari sampai daerah Sungai Batanghari (sekitar Bangko sekarang). Karena pasukan raja Palembang tidak tinggal diam dan terus mengejar tawanan tersebut, maka diputuskan untuk menghilir sungai Batanghari, di suatu tempat di pinggis Sungai Batanghari (daerah Kabupaten Merangin sekarang), mereka berunding apakah kembali ke Kerinci Tinggi lewat jalan sewaktu mereka dibawa oleh pasukan raja Palembang atau mencari daerah lain yang aman. Tidak mungkin mereka kembali lewat jalan lama karena pasti akan dikejar oleh pasukan raja Palembang. Untuk itu diputuskan untuk meng-hiliri Sungai Batanghari. Rakit dari pohon betung (bambu besar) dibuat oleh pengawal dan dubalang yang mampu menampung sejumlah mereka yang melarikan diri. Sewaktu usaha untuk melepaskan diri dari tawanan pasukan Kerajaan Palembang, usaha melepaskan dan melarikan diri dari pengawasan pasukan tersebut anak yang baru lahir tidak dapat dibawa serta. Anak tertinggal tersebut dibawa ke Palembang dan diserahkan kepada raja. Anak tersebut besar dan dibesarkan di lingkungan istana Kerajaan Palembang.

    Sambil menghilir di sepanjang Sungai Batanghari rombongan Puti Unduk Pinang Masak berhenti di desa-desa di sepanjang Sungai Batanghari. Mereka singgah mungkin dalam waktu singkat, mungkin pula dalam waktu yang cukup lama sambil mendapatkan perbekalan disepanjang jalan, dan akhirnya sampailah rombongan tersebut di daerah Jambi.

    Itulah sebabnya kenapa wilayah-wilayah di sepanjang Sungai Batanghari banyak cerita mengenai Puti Unduk Pinang Masak.

    Sesampainya di Tanah Pilih Puti Unduk Pinang Masak memperkenalkan diri kepada pimpinan wilayah dan masyarakat umum bahwa beliau adalah anak raja kerajaan Melayupura di Pagarruyung. Tentu saja ada yang percaya ada pula yang tidak mempercayainya. Namun pada waktu itu Puti Unduk Pinang Masak mengerti benar bahwa pimpinan wilayah dalam lingkungan kerajaan Melayupura Pagarruyung adalah pimpinan yang ditunjuk oleh kakeknya Adityawarman. Jadi oleh sebab itu pimpinan wilayah Jambi pada waktu itu menanyakan apa bukti yang dapat ditunjukkan kalau puti ini adalah anak raja Melayupura.

    Beberapa dubalang atau pengawal puti tersebut diperintahkan kembali ke Alam Kerinci untuk meberitakan kepada suaminya Sigindo Batinting bahwa isteri beliau beserta pengawalnya sudah selamat sampai di Jambi, sekaligus untuk mengajak Sigindo Batinting ke kerajaan Jambi Hilir, serta dengan membawa serta benda-benda pusaka kerajaan untuk ditunjukkan kepada masyarakat Jambi bahwa beliau benar keturunan raja Melayupura Pagarruyung.

    Puti Unduk Pinang Masak mengutus salah seorang pasukannya untuk kembali ke Kerinci menyampaikan kepada suami beliau Sagindo Batinting bahwa beliau telah selamat sampai di Tanah Pilih Jambi. Kepada utusan tersebut dipesankan untuk membawa pusaka kerajaan Pagarruyung (keris sekilan dan cap kerajaan) bersama beliau dibawa ke Jambi. (Lihat MALPU-81 tentang cap kerajaan dan keris sekilan).

    Sebelum utusan itu sampai di Kerinci Sigindo Batinting telah mendapatkan informasi bahwa isterinya melarikan diri dan sudah sampai di Jambi sedangkan anak beliau dibawa ke Palembang. Sigindo Bantinting dengan perasaan yang tidak puas beliau mengumpulkan panglima kerajaan yang ada di wilayah Kerinci Tinggi, antara lain dubalang-dubalang terpilih, yaitu Kedemang Nan Batujuh. Pembalasan segera dilakukan. Setelah persiapan perang matang, maka berangkatlah pasukan Sigindo Batinting menuju daerah Palembang. Pada perbatasan wilayah Kerajaan Sriwijaya, terjadilah peperangan antara pasukan Sigindo Batinting dengan pasukan Sriwijaya. Tidak sedikit rakyat di daerah pertempuran yang menjadi korban peperangan, demikian pula korban yang jatuh dari kedua pihak.

    Serangan pasukan Kedemang Nan Batujuh tidak dapat menembus pertahanan raja Palembang karena pasukan yang dikerahkan tidak sebanding dengan pasukan Raja Palembang. Akhirnya Kademang Nan Batujuh memutuskan untuk menarik pasukannya kembali dengan tangan hampa; bak kata pepatah yang turun menurun berbunyi: ”Mesiu habis Palembang tak kalah”.

    Itulah pertempuran terakhir antara pasukan Raja Palembang dengan pasukan Sigindo Batinting, dengan arti kata bahwa untuk di Sumatera hanya wilayah Kerinci Tinggi saja yang tidak dapat ditaklukan oleh Kerajaan Palembang sebagai pewaris dari Kerajaan Sriwijaya, sedangkan wilayah Jambi lainnya dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya sampai dengan bangkitnya Kerajaan Melayu Jambi setelah Kerajaan Sriwijaya mulai melemah akibat dari serangan dahsyat yang dilakukan tiga kali oleh pasukan Cola Mandala dari India.

    Sewaktu utusan dari Puti Unduk Pinang Masak sampai di Jerangkang Tinggi (Kerinci) dan menyampaikan pesan kepada Sigindo Batinting maka dalam beberapa hari beliau sudah menyiapkan seluruh pusaka kerajaan yang diminta untuk dibawa ke Jambi. Beliau sendiri yang membawanya ke Jambi bersama dengan pasukan kerajaannya. Sesampainya di Jambi, maka benda milik kerajaan Melayupura itu diperlihatkan kepada seluruh masyarakat Jambi dan barulah mereka mengakui bahwa Puti Unduk Pinang Masak benar salah seroang pewaris kerajaan Melayupura. Akhirnya Puti Unduk Pinang Masak diangkat menjadi raja Jambi yang bergelar “PUTI SALARO PINANG MASAK”, sedangkan suaminya Sigindo Batinting mendampingi isterinya menjadi raja Jambi. Mereka mempunyai anak empat orang yang oleh masyarakat dipanggil gelarnya saja dengan panggilan Rang Kayo.

    Seperti diuraikan sebelumnya bahwa gelar Rang Kayo ini adalah panggilan gelar terhormat terhadap orang yang berpengaruh dalam masyarakat di daerah Minangkabau dan Kerinci karena sangat tabu bagi masyarakat zaman dulu untuk memanggil seorang yang dihormati dengan memanggil nama asli. Ke empat anak raja Jambi ini adalah Rang Kayo Pingai, Rang kayo Pedataran, Rang Kayo Hitam dan Rang Kayo Gemuk.

    Suami Puti Salaro Pinang Masak meninggal dunia di Ujung Jabung dan dikuburkan di Pulau Berhala, dan Puti Salaro Pinang Masak meninggal dunia dikuburkan di Desa Pamunduran – Kecamatan Kumpeh Hilir.

    KESIMPULAN
    Dalam seri MALPU 55, banyak pertanyaan harus dijawab sehubungan keberadaan puteri kerajaan Pagarruyung sampai di Jambi, berikut ini pertanyaan yang dikemukakan berikut jawaban setelah melalui telaah literatur dan kajian yang panjang dalam berbagai seri MALPU, adalah sebagai berikut:

    1. Apakah perjalanan Puti Salaro Pinang Masak dari Pagarruyung ke daerah Jambi dilakukan dengan sengaja atau tidak? Jawabannya ternyata tidak. Banyak liku-liku perjalanaan yang harus beliau tempuh mulai dari Pagarruyung, terus melewati Solok Selatan terus ke Koto Limo Manis di Kayu Aro, menetap bersama suami Sigindo Batinting di Jerangkang Tinggi (Pulau Sangkar), akhirnya sampai di Jambi dan diangkat menjadi Raja Jambi. Semuanya itu tidak direncanakan, dan kebetulan perjalan hidup beliau yang berliku membawa keberuntungan sampai menjadi raja di Jambi.

    2. Dengan kendaraan apa beliau sampai di Jambi, perjalanan yang sangat panjang dengan desa-desa di sepanjang perjalanan beliau sangat sedikit dan umumnya hutan belantara yang dipenuhi oleh binatang-binatang buas? Berangkat dari Pagarruyung berjalan kaki terus ke Kerinci, kemudian waktu melarikan diri dari tawanan raja Palembang, beliau beserta pengikutnya naik rakit dari Merangin sampai ke Jambi.

    3. Mengapa anak raja melakukan perjalanan yang begitu jauh? Tujuan pertama dulu sewaktu berangkat adalah mencari saudara sendiri, atau mungkin juga satu kaum yang sudah berangkat meninggalkan daerah Minangkabau tetapi tidak kembali. Di samping itu mungkin pula adalah kebiasaan raja Melayupura menempatkan keluarga mereka untuk memimpin daerah-daerah taklukan agar memudahkan pengendalian kerajaan secara menyeluruh.

    4. Mengapa sebagian desa di sepanjang sungai Batanghari menerangkan bahwa umumnya masyarakat mereka adalah keturunan dari Puti Salaro Pinang Masak? Dari uraian di atas ternyata bahwa sewaktu meng-hiliri sungai Batanghari, rombongan selalu berhenti di dusun-dusun sepanjang sungai untuk menambah perbekalan. Mungkin waktunya ada yang singkat mungkin pula berdiam beberapa lama di suatu tempat.

    5. Apa betul suami beliau adalah Datuk Paduko Berhalo anak raja Turki yang berlabuh di Pulau Berhala kemudian menghancurkan berhala dan mengislamkan rakyat Jambi? Dari uraian pada MALPU 56 dan yang lainnya telah dibuktikan dari berbagai rujukan bacaan tidak ditemukan siapa sebenarnya Ahmad Salim atau Ahmad Barus atau Ahmad Tajuddin sebagai anak raja Turki. Dari silsilah raja Turki tidak satupun raja atau anak raja mereka yang berlayar jauh sampai ke Pulau Berhala, sehingga Datuk Paduko Berhalo sebagai suami dari Puti Salaro Pinang Masak seperti diuraikan dalam mitos dan legenda yang ada di Jambi itu hanya merupakan “tokoh hayalan” yang tidak pernah ada dalam kenyataan.

    6. Siapa wali atau yang mengawinkan Puti Salaro Pinang Masak dengan Datuk Paduko Berhalo karena waktu itu diceritakan bahwa beliau kawin setelah mengislamkan Puti Salaro Pinang Masak. Apa betul suami beliau adalah Ahmad Salim atau Datuk Paduko Berhalo? Wali yang mengawinkan Puti Salaro Pinang Masak dengan seorang yang berasal dari Minangkabau yaitu Raja Ceranting (di Jerangkang Tinggi dipanggil Sigindo Batinting) di Koto Bento (Koto Limau Manis) – Kayu Aro sekarang mungkin saja banyak penyebar agama Islam ke daerah Kerinci pada waktu itu.

    7. Mungkinkah Puti Salaro Pinang Masak berjalan sendiri dari Pagarruyung sampai di Jambi karena dalam legenda beliau tidak disebutkan siapa yang menyertai beliau. Jawabannya tidak, beliau dikawal oleh banyak pendekar atau dubalang yang bertanggung jawab menjaga anak anak raja, beliau diberi bekal yang cukup, diberi pusako kebesaran kerajaan dan diberi tanda-tanda dia sebagai anak raja yang sedang dalam perjalanan.

    8. Mengapa begitu mudahnya Tun Telanai sebagai raja Jambi pada waktu itu menyerahkan begitu saja kerajaan Jambi ini kepada Puti Salaro Pinang Masak? Karena tanda-tanda kebesaran kerajaan Melayupura – Pagarruyung yang dibawa oleh suami beliau dari Kerinci berupa Cap Kerajaan dan Sebilah Keris pusaka itulah yang diperlihatkan kepada masyarakat Jambi sebagai bukti bahwa beliau adalah keturunan raja dan wilayah yang dikuasai oleh raja setempat adalah seseorang yang diangkat oleh Raja Melayupura untuk ditempatkan di daerah Jambi. Maka wajar kalau anak raja ingin mengambil wilayah tersebut dan ingin diangkat menjadi raja wajib dituruti, karena beliau mempunyai hak yang paling kuat untuk menjadi raja.

    9. Mengapa anak-anak beliau diberi gelar Rang Kayo? Pada hal sampai sekarang tidak satupun silsilah kerajaan Jambi yang diberikan gelar Rang Kayo, namun nyatanya keturunan-keturunan beliau digelar pangeran, panembahan dan raden? Dalam uraian di atas sudah dijelaskan bahwa gelar itu bukan gelar dari kerajaan Jambi, melainkan gelar atau panggilan terhormat dari daerah Minangkabau dan Kerinci. Sehingga sewaktu anak-anak Puti Salaro Pinang Masak sudah besar, masyarakat memanggil mereka dengan sebutan Rang Kayo. Gelar ini tidak diturunkan di kerajaan Jambi atau di Kesultanan Jambi, karena seorang raja pasti harus menyesuaikan diri dengan daerah setempat, dan gelar Rang Kayo tidak tepat lagi diturunkan kepada pewaris-pewaris raja berikutnya.

    10. Mengapa nama beliau adalah Puti sedangkan turunan beliau tidak satupun yang bernama puti? Puti itu adalah gelar terhormat yang diberikan kepada anak raja yang perempuan di daerah Minangkabau dan Kerinci. Kerena kerajaan Melayu Jambi berada di luar wilayah Minangkabau maka gelar puti itu tidak lagi diturunkan kepada anak raja yang perempuan, semuanya disesuaikan dengan sebutan kebiasaan setempat.

    11. Menurut sejarah Jambi, Tanah Pilih Kota Jambi ditentukan oleh sejarah perjalanan Puti Salaro Pinang Masak dan Rang Kayo Hitam dengan melepas dua ekor angsa. Di mana angsa berhenti di sanalah dibangun pusat kerajaan. Pertanyaannya siapa yang membawa angsa itu? Karena dalam sejarah Jambi disebutkan keduanya Puti Salaro Pinang Masak dan Rang Kayo Hitam. Salah satu di antara mereka mungkin benar, kalau keduanya pastilah salah, atau tidak ada yang benar sama sekali. Jawabannya, kejadian mengikuti sepasang angsa seperti diuraikan dalam sejarah Jambi, itu hanya merupakan mitos atau legenda belaka, tidak yang sebenarnya.  ...*

    H. Aulia Tasman
    Gelar Depati Rencong Telang


    Kerincinews.com Email : kerincinews@gmail.com Twitter : @kerincinews1 Terima kasih telah membaca :Membongkar Adat Lamo Pusako Usang - 100
    • Komentar G+
    • Komentar Facebook

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Membongkar Adat Lamo Pusako Usang - 100 Rating: 5 Reviewed By: Adminn Kerincinews
    Scroll to Top
    //add jQuery library