• Pilihan

    Jambi Masih Deman Batu Hias

    Batu Kalimaya
    KERINCINEWS.COM, JAMBI-Bermula karena pemberitaan media massa terhadap kegemaran beberapa pejabat tinggi negara mengoleksi batu akik, kini hampir seluruh penjuru tanah air demam batu akik, tidak terkecuali di Jambi. Mulai dari pejabat, pengusaha, pedagang kelontong bahkan anak-anak sekolah dasarpun sudah mengoleksi cincin batu akik.

    Rakyat Indonesia kini seperti terhipnotis dengan keindahan warna, motif dan segala macam cerita yang ada pada benda mati tersebut. Tak pelak lagi, kini hampir seluruh persimpangan dan tempat-tempat strategis dikerubuti pengrajin dan pembeli batu akik. Mulai dari bahan baku yang belum diasah hingga yang sudah dipoles menjadi perhiasan yang indah dipandang mata.

    Awalnya beberapa pejabat daerah menghadiahi Presiden Susilo Bambang Yudiyono dengan batu akik, termasuk pejabat dari Sumatera Barat. Kabarnya batu akik yang diberikan kepada SBY tersebut bernama Lumut Sungai Dareh. Ada juga yang menyebut dengan nama Giok Sungai Dareh atau Kumbang Jati. Batu akik seperti ini warnanya hijau bening seperti pucuk daun pisang.

    Lalu dikabarkan lagi Presiden SBY suatu hari pernah menghadiahi Presiden Amerika Serikat Barak Obama dengan Batu Bacan, batu akik yang sudah mendunia dari Pulau Bacan, Halmahera. Akhirnya, saling menghadiahi batu akik khas daerah masing-masing sudah menjadi tradisi bagi kalangan pejabat di tanah air. Bahkan diwaktu senggang, banyak yang lebih asik diskusi tentang batu akik ketimbang masalah kemelut ekonomi negara ini.

    “Daripada kita cerita yang gak baik, lebih asik cerita soal batu akik,” ungkap seorang pejabat Pemprov Jambi yang tak bersedia namanya di tulis. Di jari tangan pejabat ini tak kurang dari lima buah cincin batu akik ukuran besar yang menghiasi jarinya tak ketinggalan batu sarang tawon asal Jambi. “Saya sudah punya koleksi batu akik dari 33 provinsi di Indonesia, itu belum termasuk batu permata dari luar negeri,” ujarnya penuh bangga. Kabarnya, Gubernur Jambi Hasan Basri Agus juga punya beberapa buah koleksi batu akik.

    Batu Sarang Tawon
    Sebenarnya, batu akik sarang tawon atau sekarang populer disebut batu teratai (ada juga yang mengatakan Sarang Tawon beda dengan Teratai) sudah lama populer di Jambi, tepatnya saat Jambi dipimpin Gubernur Abdurraham Sayoeti 20 tahun silam. Kala itu, almarhum Sayoeti meminta para pengarajin ukir batu membuatnya menjadi aneka perhiasan rumah tangga seperti meja kecil, pas bunga, asbak rokok dan ada juga dalam bentuk batu cincin.

    Batu berwarna kuning kecoklatan ini, memiliki corak yang khas yakni seperti motif sarang tawon dan  bunga teratai (lihat gambar di atas). Kekerasannya luar biasa dan tidak mudah pecah atau berubah warna. Batu ini sangat mengkilap setelah dipoles dan keistimewaannya mudah dibentuk meski amat keras. Sumber utamanya di perbukitan dan sungai-sungai di Kabupaten Bungo, Merangin dan Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi.

    Akhir-akhir ini, setelah batu sarang tawon digemari hingga manca negara, kian banyak pengusaha lokal yang berburu batu sarang tawon. Aneka corak dan warna mulai ditemukan. Ada berwarna kuning, abu-abu, ungu, merah saga, hitam kristal bahkan terakhir ditemukan corak berwarna hitam dengan motif perak mengkilap. Corak ini sangat langka dan sulit ditemukan. “Ini satu-satunya batu akik yang punya karakter khas dan jelas motifnya, tidak perlu dicari-cari karena tiap batu sarang tawon sudah ada motinya,” kata Gunawan yang amat kagum dengan batu sarang tawon alias batu teratai.

    Menurut Gunawan, ia sudah memiliki ratusan koleksi batu akik, hanya batu sarang tawon Jambi yang punya karakter yang jelas. Meski di Rupit Sumsel dan Bengkulu ada juga ditemukan batu serupa, tetapi menurutnya batu sarang tawon atau batu teratai Jambi yang lebih berkualitas. “Ini saya dengar sendiri dari pakar batu akik dan juri nasional dari Jakarta,” ungkapnya serius.

    Pria perantau asal Pulau Jawa yang sudah sepuluh tahun jadi kolektor batu akik ini mengatakan, sebaiknya batu sarang tawon Jambi tidak dihambur-hamburkan dan harus selektif dalam memperdagangkannya. Artinya perlu peraturan daerah yang mengatur masalah ini sehingga bisa menguntungkan masyarakat dan pemerintah. “Kalau sekarang yang untung besar itu pedagang dari Jakarta,” ungkapnya.

    Gunawan tidak ingin batu akik sarang tawon atau teratai akhirnya habis begitu saja atau menjadi murah nilai ekonominya seperti yang terjadi pada batu Raflesia dari Bengkulu. “Batu Raflesia itu batu yang sangat bagus, tapi harganya jadi murah lantaran masyarakat di sana tidak sabar dan menjualnya dalam jumlah besar ke luar daerah pakai mobil truk,” kisahnya dan menurutnya, kini batu berwarna kuning pekat, merah dan putih itu mulai sirna dan sulit dicari lantaran sudah habis diborong pedagang pengumpul dari Pulau Jawa. Nasib yang sama juga dialami batu lumut sungai dareh dari Sumbar.

    Bila demikian halnya, maka benarlah cerita yang berkembang bahwa batu-batu akik yang dijual pasaran daerah seperti batu solar, giok dan lumut dari Aceh, sungai dareh, suliki, kumbang jati dari Sumber, raflesia dari Bengku, sarang tawon, limau manis dan kecubung bungur dari Jambi dan lainnya, kualitasnya jauh beda dengan yang sudah beredar di Pulau Jawa seperti di Jakarta. “Yang tinggal di kita ini cuma yang kualitas rendah, yang kualitas tinggi sudah diboyong ke Jawa,” ujar Efi, seorang pengasah batu akik terkenal di Jambi.

    Pengasah Dadakan

    Sejak demam batu akik turut melanda Jambi kini tumbuh ratusan pengrajin atau biasa disebut tukang asah batu. Di antara mereka memang ada yang pengrajin lama, tetapi lebih banyak yang baru alias  dadakan. Ada yang masih menggunakan peralatan tradisional dengan menggunakan rantai dan velg bekas sepeda untuk memutar gerinda sebagai media pengikis batu, tetapi lebih banyak menggunakan listrik untuk memutar gerinda dengan mesin dinamo.

    Tahukan Anda berapa penghasilan mereka dalam sehari? Upah untuk membentuk dan memoles sebutir batu hingga mengkilap rata-rata antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Biasanya seorang pengrajin bisa menghasilkan sedikitnya 30 butir sehari bahkan ada yang lebih bila kerja hingga larut malam.  Diantara mereka ada yang sudah dibantu oleh beberapa orang asisten dengan sistim upah bagi hasil.

    Bagi pengrajin atau pengasah yang sudah berpengalaman atau hasil karyanya sudah terkenal bagus, pasti akan kebanjiran order. Para pengrajin ini juga sekaligus bisa menjual hasil karya mereka dengan harga yang cukup pantastis. Alhasil, demam batu akik di Jambi juga berdampak postif dalam mengurangi angka pengangguran. Lalu berapakah penghasilan mereka sebulan? Silahkan Anda hitung-hitung sendiri. Dan bila Anda berminat dengan batu akik sarang tawon, redaksi jambibagus.com siap membantu. (mch)

    Kerincinews.com Email : kerincinews@gmail.com Twitter : @kerincinews1 Terima kasih telah membaca :Jambi Masih Deman Batu Hias



    Get Adobe Flash player



    jambibagus.com
    • Komentar G+
    • Komentar Facebook

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Jambi Masih Deman Batu Hias Rating: 5 Reviewed By: Adminn Kerincinews
    Scroll to Top
    //add jQuery library