• Pilihan

    Kisah Penyelam Wanita Bertaruh Nyawa Temukan Korban AirAsia

    "Sedih kalau kami menyelam tidak dapat jenazah, kami sudah anggap korban seperti keluarga sendiri."


    KERINCINEWS.COM, KERINCI - Operasi pencarian pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, melibatkan puluhan penyelam hebat dari Badan SAR Nasional (Basarnas) dan TNI.

    Di antara mereka, Yusniar Amara merupakan satu-satunya penyelam perempuan. Yus, begitu dia biasa disapa, tidak ubahnya perempuan pada umumnya.

    Dandanannya sederhana. Hijab hitam dipadu celana jins atau kain. Bila sedang bertugas, dia tidak lupa mengenakan seragam Basarnas lengan panjang.

    Yus dipilih dalam operasi pencarian pesawat AirAsia karena kemampuan dan pengalamannya selama ini. Sebagai penyelam SAR, Yus termasuk punya jam selam tinggi.

    Dia sudah berkali-kali terlibat operasi SAR yang berhubungan dengan penyelaman di sungai atau laut. Yus mengatakan sejak terjun mencari korban AirAsia pekan lalu, cuaca di lokasi sangat buruk.

    "Gelombang tinggi sampai empat meter, arus di bawah air sangat kuat dan zero visibility. Benar-benar tidak tampak sejengkal pun, kami cuma mengandalkan senter tapi itu pun cuma bisa dua meter saja," kata Yus dikutip Dream.co.id dari laman BBC Indonesia, Rabu 7 Januari 2015.

    Selain cuaca di sekitar buruk, ia tak jarang setiap kali masuk ke air, langsung diterjang badai.

    "Maksimal kami menyelam di kedalaman 30-40 meter cuma boleh 18 menit, jadi sebelum turun kami berdoa agar dimudahkan. Sedih kalau kami menyelam tidak dapat jenazah, kami sudah anggap korban seperti keluarga sendiri," kata wanita asal Nanggroe Aceh Darusalam itu.

    Ia mengaku penyelamatan dan pencarian korban bukan tugas mudah. "Karena kita kan lihat muka jenazah, tapi kita berdoa saja. Kita bilang dalam hati ke mereka kalau kita ingin menolong mereka, membawa mereka bertemu keluarga, memang kuncinya kesiapan dan kekuatan mental," kata dia.

    Berkali-kali terlibat operasi penyelamatan dan pertolongan bencana, Yus mengatakan ketika bencana terjadi pada orang yang ia cintai, ia justru tidak bisa menolongnya.

    Kisah itu terjadi pada 2004 silam, saat ia bertugas menjaga Pantai Ule Leueu, tapi hari Kamis dua hari sebelum tsunami (26 Desember 2004).

    "Tunangan saya di Ule Leueu suruh saya pulang tengok orang tua dan balik lagi hari Minggunya. Tapi ternyata Sabtunya ada tsunami dan tunangan saya hilang," kata Yus lirih mengingat kisah itu.

    Dari Bela Diri Karate

    Yus sebenarnya adalah atlet karate. Pada 2002, dia sedang mengikuti training center karate untuk persiapan kejurda.

    Tiba-tiba, ia ditawari untuk menggantikan atlet selam yang mengalami patah kaki, karena Yus bisa berenang. Entah mengapa ia tertarik untuk mencobanya.

    Sejak menyanggupi tawaran itu, Yus justru ketaigihan dan berlatih menyelam. Hampir setiap hari. Mulai tingkat dasar hingga expert. Pada akhirnya Yus diminta menjadi pelatih selam di Basarnas Aceh.

    Pada 2006, Yus sempat mendaftarkan sebagai PNS (pegawai negeri sipil) di Basarnas dan di Depdikbud Aceh sebagai guru. Sejak kecil, ia memang bercita-cita ingin menjadi guru.

    "Dua-duanya diterima dan karena sudah cinta sekali dengan Basarnas dan menyelam, saya memilih Basarnas," kata Yus.

    Cita-cita menjadi guru pun tidak sepenuhnya musnah karena ia kini juga sudah menjadi instruktur selam.


    Kerincinews.com Email : kerincinews@gmail.com Twitter : @kerincinews1 Terima kasih telah membaca :Kisah Penyelam Wanita Bertaruh Nyawa Temukan Korban AirAsia




    sumber ; dream.co.id
    • Komentar G+
    • Komentar Facebook

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Kisah Penyelam Wanita Bertaruh Nyawa Temukan Korban AirAsia Rating: 5 Reviewed By: Adminn Kerincinews
    Scroll to Top
    //add jQuery library