• Pilihan

    Disdik Solsel Kecewa 10 Guru Pindah Ke Kerinci

    KERINCINEWS.COM, KERINCI - Berdasarkan informasi yang dihimpun di akhir tahun 2014 dan di awal tahun 2015, sebanyak 10 guru PNS yang bertugas di beberapa sekolahdi Solok Selatan (Solsel), pindah tugas ke Kabupaten Kerinci. Namun, kepindahan tersebut  tidak diketahui oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Solsel. Selain itu, kepindahan tersebut di tengah kondisi Solsel kekurangan banyak guru.

    10 guru yang pindah ter­sebut antara lain, 3 di SMKN, 3 di SMKN 4, 2 di SMAN 3, 1 di SMAN 7, dan 1 di SMPN 11.  Kepala Disdik Solsel, Fidel Efendi mengungkapkan, pihaknya sama sekali tidak mengetahui kepindahan 8 guru tersebut, karena tidak dimintai rekomendasi oleh Badan Ke­pegawaian Daerah (BKD) Solsel. Selain itu, guru yang pindah itu juga tidak melapor ke Disdik.

    “Harusnya BKD meminta rekomendasi ke Disdik apa­bila memindahkan guru PNS, agar Disdik tahu berapa guru yang kurang dan berapa yang di­butuhkan untuk mengisi keku­rangan itu,” ujarnya saat dih­u­bungi, Minggu (1/2).

    Ia mengimbau kepada BKD, agar meminta re­ko­men­dasi Disdik apabila nanti me­mindahkan guru PNS.

    Fidel menginformasikan, di tahun 2014, Solsel ke­ku­rangan 393 guru, mulai SD hingga SLTA. Dengan ke­pin­dahan 8 guru tersebut, maka angka kekurangan guru di Sols­el bertambah. Fidel ber­harap, 403 PNS yang lulus CPNS Kategori Dua (K2), bisa me­menuhi kekurangan guru ter­sebut. Namun, ia tak bisa ber­harap banyak, karena 403 K2 itu banyak berijazah tama­tan SMA. Mereka lulus CPNS kare­na lama mengabdi menja­di gu­ru honorer sehingga masuk K2.

    Kepindahan tersebut me­nimbulkan dampak yang bu­ruk terhadap keberlangsungan proses belajar mengajar (PBM) di sekolah yang di­ting­galkan oleh guru yang pindah. Di SMAN 7, terdapat 1 guru yang pindah ke Kabupaten Kerinci. Guru tersebut adalah guru Bahasa Inggris yang pin­dah dua bulan lalu. Sekarang, tidak ada seorang pun guru Bahasa Inggris di SMAN 7.

    Kepala SMAN 7, Akmalu Ri­jal Putra mengeluh, terdapat 15 kelas di sekolahnya, yang me­m­butuhkan guru Bahasa Ing­gris. Dengan kepindahan sa­tu-satunya guru Bahasa Ing­gris itu, maka PBM Bahasa Ing­gris, kocar-kacir di sekolah itu.

    “Terpaksa saya yang me­ngajar Bahasa Inggris. Se­dangkan mengajar Bahasa In­donesia saja sulit rasanya kare­na tidak bidang ilmu saya, apalagi mengajar Bahasa Ing­gris,” ungkapnya.

    Hal yang sama juga di­ungkapkan Kepala SMPN 11, Mulyati. Ia mengatakan, di sekolahnya terdapat 1 guru yang pindah ke Kabupaten Kerinci. Guru tersebut adalah Guru Matematika yang pindah pada akhir November 2014.

    “Di SMPN 11, ada dua guru matematika yang PNS. Yang satu sudah pindah. Ting­gal satu lagi. Padahal lokal yang mesti diajar sebanyak 10, dengan 40 jam ajar seminggu. Untuk mengisi kekosongan itu, kami terpaksa menambah tenaga guru honorer sebanyak dua orang. Kalau guru honor, tentu sekolah yang bayar. Kalau bisa, guru itu PNS, biar sekolah tidak membayar gaji guru honor,” katanya.

    Di SMAN 3, terdapat 2 guru yang pindah ke Ka­bu­paten Kerinci. Kepala SMAN 3, Samsurya menga­takan, 2 guru yang pindah itu adalah guru Bahasa Indonesia yang pindah pada Desember 2013, dan Guru Pra Karya dan Seni yang pindah Januari 2015.

    “Sekarang tinggal 2 guru Bahasa Indonesia. Sementara kami butuh 4 guru Bahasa Indonesia untuk mengajar 25 lokal, dengan 100 jam ajar seminggu. Kami menambah 3 guru honorer untuk mengisi kekurangan guru itu. Se­men­tara guru Pra Karya dan Seni yang tersisa saat ini 2 orang. Padahal kami utuh 4 guru Pra Karya dan Seni untuk menga­jar 25 lokal, dengan 84 jam ajar seminggu,” ungkapnya.

    Demikian juga di SMKN 2. Kepala SMKN 2, Ida Novatni mengatakan, di sekolahnya terdapat 3 guru pindah ke Kabupaten Kerinci. 1 guru Bahasa Inggris yang pindah terhitung tanggal 1 Februari 2015. Kemudian, 1 guru Per­tanian dan 1 lagi guru Ke­wirausahaa yang pindah se­bulan yang lalu.

    Dengan kepindahan itu, kata Ida, saat ini sekolahnya tidak memiliki guru Bahasa Inggris. Sekolahnya memang hanya butuh 1 guru Bahasa Inggris yang mengajar 6 lokal, dengan 4 atau 6 jam ajar se­minggu. Namun, jika tidak ada guru, maka proses PBM Ba­hasa Inggris akan terganggu.

    Sementara untuk guru Per­tanian, lanjut Ida, tinggal 1 guru lagi, dari dua guru yang dibutuhkan. Jam mata pela­jaran Pertanian di sekolah itu sebayak 30 jam seminggu, yang mengajar di 3 lokal. Sedangkan untuk guru Kewirausahaan, tidak ada lagi guru yang tersisa, dari 1 guru yang dibutuhkan, yang mengajar 6 lokal, dengan 24 jam ajar seminggu.

    Sementara itu, Kepala BKD Solsel, Erwin Ali saat ditanya mengenai kepindahan guru tersebut, ia menjawab, kepindahan guru itu sudah memenuhi syarat.

    Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Solsel, Dede Pasarela, sangat menya­yang­kan pindahnya 10 guru ter­sebut ke Kabupaten Kerin­ci, padahal Solsel kekurangan guru. Istilah yang tepat untuk guru yang pindah di tengah kondisi kekurangan guru di Solsel, menurut Dede Pasarela, “kita sedang haus, tapi air diberikan kepada orang lain,” ujar politisi PKPI tersebut.

    Mengenai kekurangan guru di Solsel, ia pernah me­nga­jukan usul ke Kementerian Dalam Negeri saat kunkuer tahun lalu. Usul tersebut yak­ni, bolehkan Kabupaten Solsel membuat peraturan darah yang mengatur tentang seorang PNS yang lulus di Solsel, menandatangai kon­trak kerja selama beberapa waktu diten­tukan, dan tak boleh pindah selama batas waktu itu habis. Namun, kata Kemen­dagari, hal itu tidak bisa dila­kuk­an, kare­na merupakan we­wenang pe­nuh bupati.

    Ia berharap, bila Solsel ingin PNS dalam hal umum, atau guru khususnya, agar ber­tahan tugas di Solsel, maka se­baiknya diprioritaskan put­ra-putri daerah untuk lulus CPNS.

    “Kalau putra-putri daerah yang jadi PNS di Solsel, maka ia tak akan pindah ke daerah lain,” sebutnya. Ia ber­pen­dapat, kualitas dna kompetensi putra-putri Solsel untuk men­jadi PNS tidak kalah dan tidak kurang dari daerah lain.

    Sementara itu, anggota Komisi I DPRD Solsel, Ali Sabri Abbas berpandangan, sepanjang alasan kepindahan guru itu masuk akal dan sesuai aturan, hal itu sah-sah saja, sebab pindah tugas adalah hak PNS yang diatur oleh undang-undang.  Namun, menurutnya me­mang kepindahan tersebut kurang bagus terkait kondisi Solsel yang masih banyak kekurangan guru.

    Tokoh masyarakat Padang Aro, Sukemi, meminta kepada pemerintah daerah, untuk memandang lebih bijak pe­min­dahan PNS, terutama guru, di Solsel, di tengah kondisi ke­kurangan guru.

    “Kalau ingin me­min­dah­kan PNS, pastikan dulu ada gantinya,” tegasnya.

    Ia berharap Pemkab Solsel memprioritaskan penerimaan putra daerah untuk lulus CPNS selanjutnya, agar kebutuhan PNS di kabupaten itu ter­cukupi.

    Sekda Solsel, Yulian Efi menambahkan, pihaknya tidak bisa menahan kepindahan PNS apabila kepindahan tersebut memenuhi syarat.

    Terkait kekurangan guru, menurut Yulian Efi, Solsel tidak kekurangan guru. Yang di­butuhkan PNS adalah pe­merataan guru.Katanya lagi, kebutuhan guru di Solsel akan terpenuhi dengan adanya 403 CPNS K2 yang SK mereka telah diberikan pada Rabu (28/1) lalu.

    Mengenai permintaan ka­langan yang meminta putra daerah untuk diprioritaskan lulus CPNS, Yulian Efi men­jawab, hal itu tidak bisa dila­ku­kan, karena aturan yang ber­laku di Indonesia, orang bi­sa jadi PNS di mana saja dan pin­dah ke mana saja, selama itu sesuai dengan aturan


    Kerincinews.com Email : kerincinews@gmail.com Twitter : @kerincinews1 Terima kasih telah membaca :Disdik Solsel Kecewa 10 Guru Pindah Ke Kerinci
    • Komentar G+
    • Komentar Facebook

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Disdik Solsel Kecewa 10 Guru Pindah Ke Kerinci Rating: 5 Reviewed By: Adminn Kerincinews
    Scroll to Top
    //add jQuery library