• Pilihan

    Nuzran Joher dan Harapan Perubahan: Sebuah Catatan Menjelang Pilwako Sungai Penuh 2015

    Oleh: RAUSHAN FIKRI


    “I will prepare and someday my chance will come.” (saya akan melakukan persiapan dan suatu hari nanti kesempatan saya akan datang). Demikian kata Presiden Amerika Serikat ke-19, Abraham Lincoln (1809-1865). Ya, Nuzran Joher telah melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Lincoln. Nuzran—disadari atau pun mungkin juga tanpa disadarinya—telah mempersiapkan diri dalam waktu yang relatif panjang untuk menjadi seorang pemimpin (leader). Nuzran remaja hidup di ujung rezim Orde Baru yang otoriter, kaku, dan cenderung pada hal-hal yang serba simbolis-formalistik yang ekstrem. 

    Tapi minat Nuzran lain: tak peduli ia dengan trend rekan-rekan seusianya yang berlomba-lomba ingin jadi PNS pada era 90-an. Mungkin karena ia berkelindan dengan dunia pergerakan, aktivis, dan idealisme, ia cuekkan keinginan untuk sekedar gagah-gagahan pakai seragam dinas. Nuzran justru menenggelamkan diri dalam aktivitas-aktivitas organisasi kemahasiswaan yang ia yakini mampu membuatnya besar dan berbeda dari rekan-rekannya kelak: menjadi tokoh dan pemimpin sosial. 

    Bertahun-tahun ia digembleng dan tergembleng di organisasi perkaderanHimpunan Mahasiswa Islam (HMI), Nuzran tumbuh dengan karakter kepemimpinan yang nasionalis. HMI—sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan yang telah banyak melahirkan tokoh dan pemimpin-pemimpin cemerlang bangsa ini—adalah organisasi yang dipilihnya ketika menjadi mahasiswa di Kota Padang, Sumatera Barat. Karena kecintaannya pada kemanusiaan (humanity), kebebasan (emancipation), dan kemerdekaan intelektual (intellectual freedom), ia memilih jalan hidup sebagai aktivis mahasiswa. 

    Ia cuekkan apa yang menjadi momok oleh teman-teman kuliahnya di masa Orde Baru dulu, yang apatis dengan organisasi: ancaman DO (drop out). Tapi, tak sia-sia. Nuzran terbukti di kemudian hari, telah menikmati hasil itu: karakter kepemimpinan (leadership) justru banyak ia dapatkan dalam dunia organisasi, bukan di kampus formal. Namun, ia tetap bisa merampungkan kuliah dan berhasil mendapat gelar sarjana. Tak hanya sukses organisasi, ia juga sukses secara akademis. Kedua hal itu telah membentuk dan memperkuat talenta kepemimpinan yang ada dalam dirinya. Bukti keuletan dan talenta kepemimpinannya: ia berhasil menjadi Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) di Jakarta. Sesuatu yang tidak mudah dicapai oleh banyak aktivis dari berbagai daerah di Indonesia.

    Figur bersih

    Terlahir dari keluarga sederhana, di Rawang, Kerinci, 42 tahun silam, tepatnya 28 Oktober 1973, Nuzran—meminjam istilah wartawan senior Rosihan Anwar dalam salah satu tulisannya di Kompas—adalah sosok “anak kampung tinggi melambung”. Sejak kecil, menurut pengakuannya, ia memang sudah tertarik dengan dunia politik dan kepemimpinan. Ia kerap dibawa mengikuti kegiatan-kegiatan politik dan sosial. Bakat kepemimpinannya terus ia asah, mulai dari organisasi-organisasi sosial dan kepemudaan di kampung sampai menduduki bangku kuliah di perguruan tinggi. Organisasi adalah bagian dari hidupnya. 

    Karena organisasi juga, Nuzran telah mengembara ke berbagai tempat di Tanah Air. Jiwa nasionalismenya tumbuh. Idealismenya kokoh. Tidak seperti pada umumnya pemuda-pemuda di kampungnya yang enggan meninggalkan tanah kelahiran, Nuzran justru memilih hijrah ke luar daerah. Namun, semua itu tidaklah membuatnya angkuh dan melupakan kampung halaman. Ia tetap ingat akan masyarakat daerahnya—Kerinci dan Kota Sungai Penuh—yang saat ini sangat banyak yang masih hidup dalam kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan.

    Mungkin, bagi Nuzran, berlaku nasihat dari Imam Syafi’i kepada para pencari untuk berani melakukan pengembaraan intelektual: ”Berangkatlah, niscaya engkau akan mendapatkan ganti untuk semua yang engkau tinggalkan. Bersusah payahlah sebab kenikmatan hidup direngkuh dalam kerja keras. Ketika air mengalir, ia akan menjadi jernih dan ketika berhenti ia akan menjadi keruh. Sebagaimana anak panah, jika tidak meninggalkan busurnya tak akan mengenai sasaran. Biji emas yang belum diolah sama dengan debu di tempatnya.” 

    Ya, benar nasihat Imam Syafi’i. Pada 2004, di usianya yang relatif muda, ia diberi amanah oleh masyarakat sebagai Senator: menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) mewakili Provinsi Jambi. Ia memperoleh suara terbanyak ketika itu dan muncul sebagai tokoh muda di pentas politik nasional—mengalahkan pesaing-pesaingnya yang berasal dari berbagai latar belakang. Di DPD, ia dipercaya sebagai Ketua PAH (Panitia Ad Hoc) III DPD RI pada 2006-2007. Ia juga pernah duduk sebagai anggota PAH I yang membidangi urusan hukum dan otonomi daerah.

    Tidak hanya itu, ia juga punya segudang pengalaman internasional ke berbagai negara-negara di dunia seperti Jepang, Finlandia, Kuba, Norwegia, Polandia, Jerman, dan lainnya. Sepanjang karirnya, ia tergolong figur yang bersih. Tidak ada catatan hitam. Tidak pernah ia tersandung persoalan-persoalan korupsi, gratifikasi, asusila, dan perilaku bejat lainnya. Selama menjadi anggota DPD RI, ia bekerja jujur untuk masyarakat Jambi. Terkadang ia bekerja dalam sunyi dan luput dari sorotan media. Namun, ia tetap bekerja, walaupun kadang difitnah dan diumpat di sana-sini. Tapi, ia tak pernah merisaukannya. Itulah sebuah karakter kepemimpinan yang kuat.

    Bukti lain dari kecintaannya untuk membangun negeri: pada 2008, ia pernah mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Kerinci, walaupun pada akhirnya gagal. Tapi, Emil Peria—yang juga aktivis pergerakan dan tokoh politik muda Kerinci—pernah mengatakan yang intinya: tidaklah menjadi soal Nuzran kalah dalam kompetisi di Pilkada Kerinci. Yang penting itu: kita telah mencoba mendobrak status quo (kemapanan) dan kebekuan demokrasi yang selama ini dianggap hanya monopoli dan dominasi “kaum tua”, dan golongan elit.


    Harapan perubahan


    Kini, Buya Ran—sapaan akrab Nuzran Joher—kembali dilirik oleh banyak kalangan tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok pro perubahan yang anti status quo di Kota Sungai Penuh. Ia mulai digadang-gadang dan disebut-sebut sebagai tokoh muda yang akan muncul dan mampu melakukan perubahan-perubahan besar untuk Kota Sungai Penuh ke arah yang lebih baik, menggantikan rezim Asafri Jaya Bakri (AJB) yang telah bertahta selama 5 tahun. Dalam pandangan banyak pengamat, AJB dinilai belum mampu memberikan kemajuan yang berarti bagi masyarakat dan Kota Sungai Penuh pasca dimekarkan dari Kabupaten Kerinci 7 tahun silam. Belum terlihat terobosan-terobosan besar dan signifikan yang telah dilakukan selama 5 tahun kepemimpinan AJB.

    Wajah Kota Sungai Penuh, secara kasat mata, masih relatif sama dengan sebelum menjadi kota otonom. Oleh karena itu, masyarakat butuh perubahan besar dan berarti. Tidak hanya dalam hal pembangunan fisik, sarana dan prasarana, tetapi juga dalam bidang manajemen birokrasi pemerintahan. Masyarakat Kota Sungai Penuh menginginkan adanya peningkatan perbaikan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih (clean and good governance), termasuk dalam hal rekrutmen CPNS dan penempatan orang untuk jabatan tertentu sesuai dengan keahliannya (the right man on the right place). Meminjam istilah Mao Tse Tung (Presiden Republik Rakyat Tiongkok pertama): harus ada “lompatan-lompatan besar” kedepan agar Sungai Penuh bisa “disulap” menjadi kota maju dan modern seperti layaknya kota-kota otonom di banyak provinsi di Indonesia.

    Masyarakat butuh walikota dengan gaya kepemimpinan yang energik, dinamis, visioner, terbuka, tidak bergaya birokrat yang kaku, dan tidak terlalu formalistik dan feodal; dan yang tidak kalah penting: memiliki jiwa “pendobrak” kebekuan dan anti kemapanan. Tipe itu, dalam pandangan banyak kalangan saat ini, ada pada sosok Nuzran Joher yang berlatar belakang aktivis mahasiswa. Karakter aktivis sejati tidak terlalu suka dengan simbol dan gaya formalistik yang kaku dan bersifat lip service belaka. Oleh karenanya, tidaklah salah jika banyak kalangan masyarakat—mulai dari pedagang kaki lima, tukang ojek, sopir angkot, pedagang pasar, buruh, petani, PNS, pemuda, yang merindukan perubahan (change) ke arah yang lebih baik—menaruh harapan besar pada Nuzran Joher untuk memimpin Kota Sungai Penuh kedepan. Mungkinkah Nuzran Joher memenuhi harapan itu? 

    RAUSHAN FIKRI
    Aktivis dan Pegiat Anti Korupsi


    • Komentar G+
    • Komentar Facebook

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Nuzran Joher dan Harapan Perubahan: Sebuah Catatan Menjelang Pilwako Sungai Penuh 2015 Rating: 5 Reviewed By: Nani Efendi
    Scroll to Top
    //add jQuery library