• Pilihan

    Quo Vadis PGMI STAIN Kerinci?


    Oleh: Raushan Fikri


         Dalam pelaksanaan tes CPNS di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Kerinci, ijazah PGMI selalu sulit diterima untuk mengisi formasi guru SD. Pemerintah Kabupaten Kerinci hanya mau menerima mereka yang berijazah PGSD. Padahal, kurikulum jurusan PGMI secara garis besar mempunyai kesamaan dengan jurusan PGSD. Dengan kata lain, lulusan PGMI mempunyai kemampuan untuk mengajar di SD negeri seperti halnya lulusan PGSD. Di ijazah PGMI sendiri tertera keterangan, “Mempunyai hak mengajar di SD/MI.” Tetapi, mengapa ijazah PGMI selalu sulit untuk diterima di lingkungan pemerintah daerah? Kalau saya perhatikan, ada beberapa kemungkinan yang menjadi penyebabnya. 

       Pertama, tidak adanya pemahaman yang baik dari BKD tentang jurusan PGMI. BKD masih memahami bahwa PGMI hanya bisa dan diperuntukkan secara khusus mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada lingkungan Departemen Agama. Padahal, berdasarkan hasil keputusan bersama antara Departemen Agama dengan BAKN di Jakarta, lulusan PGMI dinyatakan dapat diterima untuk mengajar di SD. Karena, pada dasarnya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara apa yang dipelajari di PGMI dengan yang ada di PGSD. Kedua jurusan tersebut sama-sama diperuntukkan mengajar di tingkat sekolah dasar atau yang sederajat.

       Kedua, tidak adanya komunikasi yang baik (good relationship) antara Pemerintah Daerah Kerinci dengan perguruan tinggi yang mencetak lulusan PGMI, dalam hal ini pihak STAIN Kerinci. Semestinya, Pemerintah Daerah Kerinci mesti bisa mengakomodir atau merekrut lulusan yang telah dihasilkan oleh STAIN Kerinci sebagai salah satu perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Kerinci. Kalau lulusan PGMI yang dicetak oleh STAIN Kerinci tidak bisa diterima untuk bekerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kerinci, untuk apa selama ini STAIN Kerinci mencetak lulusan PGMI begitu banyak? Apakah hanya untuk kepentingan “bisnis pendidikan” yang hanya berorientasi menghasilkan keuntungan materil semata? 

       Di lain pihak, bagi Pemkab Kerinci, di mana peran dan upayanya dalam penciptaan lapangan kerja (job creation) dalam upaya mengurangi angka pengangguran? Seharusnya, pengisian formasi untuk guru SD di Kabupaten Kerinci dapat diberikan kepada lulusan PGMI yang dihasilkan oleh kampus di daerah Kerinci itu sendiri, di samping PGSD tentunya. Semestinya, bagi Pemkab Kerinci, penerimaan lulusan PGMI dari STAIN Kerinci yang jumlahnya cukup banyak itu dijadikan bentuk kongkrit bagi Pemkab Kerinci maupun Pemkot Sungai Penuh dalam upaya mengurangi pengangguran dan pengentasan kemiskinan (poverty eradication) yang ada di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Kasihan mahasiswa sudah capek-capek kuliah kalau toh tidak ada kejelasan karir.


    Kebijakan atau Peraturan?

        Sampai saat ini, dalam pengamatan saya, dapat tidaknya jurusan PGMI diterima untuk mengajar pada SD di lingkungan Pemkab didasarkan atas kebijakan Pemkab itu sendiri, bukan karena adanya sebuah peraturan perundang-undangan yang jelas. Hal ini dapat dilihat, misalnya, pada tahun 2004, banyak dari mereka yang berijazah PGMI diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di kabupaten luar Kerinci seperti Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Dan, saat ini mereka tetap mengajar di sana sebagai PNS. Kemudian, penerimaan CPNS pada tahun 2008 juga banyak dari mereka yang lulusan PGMI diterima untuk mengisi kekosongan tenaga guru pada sekolah dasar. 

       Nah, jelas kiranya, bahwa tidak ada peraturan perundang-undangan yang pasti yang mengatur persoalan ini. Buktinya, ada sebagian yang diterima dan ada yang tidak. Ada saatnya diterima, dan ada saatnya tidak. Inikan aneh. Jika memang ada dasar peraturan perundang-undangannya, jurusan PGMI tidak pernah ada yang bisa menjadi pegawai negeri untuk mengajar di SD negeri sebagai guru kelas yang berstatus PNS. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu. 

      Tidak hanya itu, antar daerah kabupaten pun tidak ada keseragaman. Pada tahun 2008, misalnya, banyak dari mereka yang berijazah PGMI berbondong-bondong datang ke Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, untuk memasukkan lamaran di sana, karena pada saat yang sama, jurusan PGMI tidak bisa diterima di Provinsi Jambi. Mereka yang melamar di Solok Selatan, Sumbar, sebagiannya dapat diterima menjadi PNS. Baru setelah itu, karena adanya demo dari mahasiswa STAIN Kerinci, ijazah PGMI akhirnya dinyatakan dapat diterima untuk mengajar di SD di seluruh Provinsi Jambi. 

     Jadi, sebenarnya, persoalannya kembali kepada pemerintah daerah. Bisa tidaknya jurusan PGMI diterima untuk mengajar pada SD negeri di lingkungan pemerintah daerah tergantung kebijakan dari pemerintah daerah itu sendiri. Jadi, persoalannya selama ini masih didasarkan atas “kebijakan” bukan aturan. Kalau ada peraturan perundang-undangan yang mengatur secara jelas, semestinya pemerintah daerah harus menjelaskannya kepada masyarakat, apakah hal itu diatur dalam PP, Permen, Perda, Peraturan Kepala BKN, atau peraturan perundang-undangan lainnya. Karena, yang disebut Negara hukum ialah tidak ada satu pun kebijakan pemerintah yang dijalankan tanpa dilandaskan atas hukum atau peraturan perundang-undangan yang ada. 

    Harus ada solusi

      Nah, sekarang bagaimana Pemkab Kerinci menyikapi persoalan ini? Masyarakat Kerinci tentunya berharap adanya perhatian serius dari Pemkab Kerinci dan pihak STAIN Kerinci dalam menyikapi persoalan ini. Harus ada solusi yang jelas. Pihak STAIN Kerinci yang telah mewisuda ratusan alumni PGMI harus ambil bagian dalam mencarikan solusi. Pihak STAIN Kerinci tidak boleh tinggal diam. Pihak STAIN Kerinci tidak boleh hanya mewisuda, tetapi tidak diperhatikan peluang kerja yang tersedia. 
       Jadi, sekali lagi, harus ada komunikasi yang baik antara pihak perguruan tinggi—dalam hal ini STAIN Kerinci—dengan Pemkab Kerinci dan juga Pemerintah Kota Sungai Penuh agar bisa ditemukan solusi yang tepat. Semoga saja dapat dipertimbangkan dan ditemukan solusi yang baik, mengingat angka pengangguran (jobless rate) saat ini terus bertambah.

    Raushan Fikri
    Aktivis HMI
    • Komentar G+
    • Komentar Facebook

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Quo Vadis PGMI STAIN Kerinci? Rating: 5 Reviewed By: Nani Efendi
    Scroll to Top
    //add jQuery library