• Pilihan

    Pilwako Sungaipenuh, Pengamat: Incumbent Dihadang Dua Kekuatan Besar

    WAWANCARA

    KERINCINEWS.COM - Pesta demokrasi di Kota Sungaipenuh kembali akan digelar. Masyarakat Kota Sungaipenuh akan menentukan nasibnya untuk lima tahun kedepan dengan memilih Walikota dan Wakil Walikota. Menurut jadwal, pemilihan kepala daerah akan digelar serentak pada 9 Desember 2015 di seluruh Indonesia. 

    Sampai saat ini, mendekati hari pendaftaran pasangan calon Walikota dan calon Wakil Walikota Kota Sungaipenuh yang dijadwalkan akan dimulai pada tanggal 26 Juli 2015, hanya tiga pasangan calon yang muncul ke publik dan yang dipastikan mendapat rekomendasi dari DPP Parpol. Dari pasangan calon yang muncul tersebut diprediksi kompetisi politik pun akan berlangsung seru dan dinamis. Namun, bagaimana sebenarnya peta kekuatan politik saat ini dan kedepan? Kerincinews.com mencoba mendiskusikannya dengan pengamat politik dari STIA NUSA Sungaipenuh, Bukhari Muallim, S.Sos., S.Pd., M.Si. 

    Berikut petikan wawancara Kerincinews.com dengan Bukhari Muallim di kediamannya, Senin, 20 Juli 2015.

    Berdasarkan analisis banyak pengamat, Calon Walikota dan Wakil Walikota Sungaipenuh yang akan berkompetisi di Pilwako Sungaipenuh pada Desember 2015, berjumlah 3 pasang calon, yakni, AJB-Zulhelmi, Herman Muchtar-Nuzran Joher, dan Ferry Satria-Buzarman. Bagaimana menurut pengamatan Anda?

    Ya, saya juga memprediksi akan seperti itu. Karena, sampai saat ini, hanya tiga pasangan calon itu saja yang muncul ke publik dan yang mendapat rekomendasi dari DPP Parpol. 

    Bagaimana dengan peluang Ahmadi Zubir?

    Ya, sebenarnya masyarakat juga banyak yang menginginkan Ahmadi Zubir maju di Pilwako kali ini. Namun, kenyataannya, sampai saat ini, belum ada partai yang akan mengusungnya. 

    Tapi kan masih ada Partai Gerindra, PPP, dan PDI-P yang belum mengeluarkan rekomendasi?

    Begini, kalau PDI-P dan PPP, dalam pengamatan saya, lebih cenderung kepada AJB. Sementara Gerindra ke Ferry Satria dan Herman Muchtar. Oleh karena itu, menurut analisis saya, peluang Ahmadi Zubir untuk ikut berkompetisi sangat kecil.

    Ok, sekarang bisa dipastikan hanya 3 calon yang bakal bersaing. Nah, bagaimana peluang AJB menurut Anda?

    Ya, AJB masih diuntungkan dengan posisinya sebagai incumbent. Karena, berdasarkan Peraturan KPU No. 12 Tahun 2015, incumbent tidak perlu mengundurkan diri. Hanya cuti saja di saat kampanye. Nah, hari ini, dalam pengamatan saya, kekuatan birokrasi masih dikontrol oleh AJB selaku Walikota aktif. Di samping itu, AJB juga didukung oleh parpol besar, yakni Partai Demokrat. Sementara kita tahu bahwa di Kota Sungaipenuh, Demokrat mengusai lima kursi di DPRD. Artinya, Demokrat bisa mengusung langsung, tanpa harus berkoalisi dengan partai lain. Nah, ini kan salah satu modal politik bagi AJB. Walaupun sebenarnya, konstituen yang memilih Demokrat pada Pileg lalu belum tentu juga akan memilih AJB di Pilwako. Karena konteks dan kepentingannya berbeda. Tapi, setidaknya, itu sudah bisa dijadikan modal awal bagi AJB. Tinggal bagaimana kepiawaian AJB saja untuk meraih dukungan dari masyarakat yang memilih Demokrat itu. Meyakinkan konstituen Demokrat.

    Jadi, menurut Anda, apa tantangan berat bagi AJB dalam mendulang suara di Pilwako nanti?

    Sebenarnya, kelemahan bagi incumbent atau petahana itu sama saja di mana-mana, yakni diserang dengan isu-isu perubahan dan ketidakpuasan publik. Dengan kata lain, figur yang akan menjadi penantang terhadap incumbent dengan mudah melemparkan isu ketidakpuasan publik terhadap kinerja incumbent selama memerintah. Di Sungaipenuh, misalnya, isu perekrutan CPNS yang disinyalir oleh banyak kalangan tidak transparan dan bernuansa KKN bisa menjadi isu yang dapat mendiskreditkan pemerintahan AJB saat ini. Di sisi lain, kemajuan pembangunan yang dianggap sebagian kalangan masih belum signifikan juga dapat dijadikan isu untuk menyerang sang petahana.


    Maksud Anda?

    Ya, saat ini dia harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa semua isu itu tidak benar. Dia harus mampu menunjukkan bahwa ia sudah bekerja dengan baik (on the right track). Dia harus bisa meyakinkan dan meraih kepercayaan publik (public trust). Tanpa itu, saya pikir, dia akan kesulitan meraih simpati dan dukungan politik dari masyarakat. Jadi, sekali lagi saya katakan, itulah beban seorang incumbent di mana-mana. Tidak hanya di Sungaipenuh saja.

    Jadi, bagaimana pengaruh Zulhelmi sebagai calon wakil dalam mendokrak suara AJB?

    Begini, salah satu faktor yang bisa menjadi kekuatan politik untuk mendulang suara, adalah tingkat popularitas sang calon pendamping. Nah, sementara Zulhelmi, dalam pengamatan saya, belum begitu populer di kalangan masyarakat umum. Di samping itu, ini yang kita sayangkan dari AJB, yaitu dalam proses penjajakan calon wakil, AJB sudah berkali-kali mengganti bakal calon pasangannya. Ini berpengaruh besar terhadap kesolidan atau kekompakan tim pemenangan. 

    Maksud Anda?

    Ya, bisa jadi tim yang sudah dibentuk bakal berbalik menjadi lawan bagi AJB itu sendiri. Karena mereka kecewa. Kan begitu. Nah, jadi Zulhelmi, menurut pengamatan saya, masih bisa me-leverage atau mendongkrak suara AJB. Karena, ia sudah punya pengalaman berkompetisi di Pilwako Sungaipenuh 2010 lalu. Namun yang jadi persoalannya, ia muncul terlambat. Sehingga, ada kemungkinan, tim sukses Zulhelmi yang loyal padanya di 2010 lalu, sudah banyak terpencar ke kandidat-kandidat yang lain. Artinya, saat ini mereka sudah berbeda interest atau kepentingan. Di situ persoalannya. Nah, ini menjadi tantangan berat bagi Zulhelmi untuk meyakinkan kembali para loyalisnya itu.

    Ok, bagaimana Anda melihat peluang pasangan Herman Muchtar-Nuzran Joher?

    Ini yang menarik: Herman dan Nuzran pada  Pilbup Kerinci 2008, pernah menjadi kompetitor untuk menjadi Bupati Kerinci. Namun kali ini, mereka saya lihat kompak dari awal untuk sepakat menjadi pasangan calon Walikota Sungaipenuh. Mereka juga, saya lihat, telah melakukan konsolidasi tim sejak lama. Jadi, dalam hal ini, saya melihat, ada semacam penyatuan dua kekuatan: kekuatan Herman dan kekuatan Nuzran. Nah, dua kekuatan besar inilah yang, dalam pengamatan saya, sebagai salah satu blok kekuatan yang bersatu yang akan menghadang incumbent, di samping satu blok kekuatan lagi, yakni Ferry Satria-Buzarman yang dibayangi oleh pengaruh politik Fauzi Siin. Mengenai kekuatan dua tokoh ini, sudah pernah saya sampaikan di beberapa media.

    Analisis Anda tentang Herman-Nuzran?

    Ya, dalam pengamatan saya, keduanya jelas punya basis massa yang besar. Herman Muchtar, misalnya, punya basis massa yang kuat di Sungaipenuh, Dusun Baru, dan Pondok Tinggi. Di samping itu, ia punya pengalaman mendulang suara yang signifikan pada Pilbup Kerinci 2008 lalu di Kecamatan Sungaipenuh, yang sekarang sudah dimekarkan menjadi tiga kecamatan: Kecamatan Sungaipenuh, Pondok Tinggi, dan Sungai Bungkal. Sementara untuk Nuzran Joher, pada Pilbup Kerinci 2008 lalu, meraih dukungan (political support) dari hampir seluruh penduduk Rawang. Dan itu masih terbukti pada Pileg 2014: ia tetap mendapat dukungan politik dari mayoritas masyarakat Rawang. Itu merupakan modal politik yang luar biasa bagi Nuzran untuk bertarung di Pilwako Sungaipenuh saat ini. 

    Baik, sekarang bagaimana dengan peluang Ferry Satria-Buzarman?

    Ya, Ferry, yang sama-sama kita ketahui saat ini adalah anggota DPRD Kota Sungaipenuh. Ia merupakan wajah baru di kancah perpolitikan Sungaipenuh. Namun demikian, Ferry Satria punya modal popularitas dari orang tuanya, Fauzi Siin. Dan, itu fenomena umum dalam dunia politik saat ini. Pengaruh Fauzi Siin di Kota Sungaipenuh relatif masih kuat. Ia menjabat Bupati Kerinci selama dua periode. Tentu, basis politiknya masih terbangun sampai saat ini. Tinggal hari ini bagaimana Ferry mampu membangun komunikasi dan melakukan konsolidasi lagi kepada loyalis Fauzi Siin. Ferry punya basis massa yang besar, yakni Kecamatan Sungaipenuh. Namun, sebagai figur muda, ia harus mampu mengusung ide-ide perubahan ke arah yang lebih baik sebagaimana yang diinginkan masyarakat Kota Sungaipenuh saat ini.


    Apakah peran Buzarman cukup signifikan untuk Ferri Satria?

    Hari ini, Buzarman adalah politisi aktif, yakni sebagai salah satu anggota DPRD dari Koto Baru Rawang. Tentu, kalau kita merujuk pada Pileg lalu, ia punya basis konstituen. Namun, seperti Ferry, Buzarman juga merupakan wajah baru di pentas politik Kota Sungaipenuh. Nah, ini tentu merupakan salah satu tantangan berat baginya dalam mendongkrak popularitas dalam waktu yang relatif singkat agar bisa meraih suara lebih besar di Pilwako 9 Desember nanti. Namun, ada satu hal yang perlu kita cermati: dengan kesiapannya untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai anggota DPRD, patut menjadi bahan perhitungan bagi kandidat-kandidat lain.


    Maksud Anda?

    Ya, secara logika, dengan spekulasi yang berani seperti itu, berarti ia sudah punya hitung-hitungan dan strategi yang matang. Nah, itu yang perlu diwaspadai oleh dua pasangan lainnya. 


    Ok. Closing statement dari Anda 

    Saya berharap, ketiga pasangan ini bisa berkompetisi secara fair. Jauhkanlah praktik-praktik money politics, intimidasi, dan segala bentuk politik kotor lainnya. Di samping itu, visi dan misi para kandidat harus realistis dan harus sesuai dengan kondisi objektif Kota Sungaipenuh. Jangan hanya bisa menghembuskan angin surga, tetapi tidak bisa diwujudkan dalam kehidupan nyata. Sehingga tidak ada kesan "pembohongan publik" bagi masyarakat. Itu saja.

    • Komentar G+
    • Komentar Facebook

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Pilwako Sungaipenuh, Pengamat: Incumbent Dihadang Dua Kekuatan Besar Rating: 5 Reviewed By: Zaliya Kreatif
    Scroll to Top
    //add jQuery library