• Pilihan

    Benarkah Batu di Muara Emat Mengandung Emas?


    OLEH : MEDI SALPIA

    Terkait dengan adanya informasi yang saya baca tentang batu yang diduga mengandung emas di muara emat, seperti yang di beritakan dalam link ini http://www.kerincinews.com/2015/01/kalau-benar-batu-muara-emat-ada-emasnya.html saya mencoba menganalisis tentang ciri – ciri batuan yang terlihat digambar tersebut, dan batu itu dikatakan berwarna hitam dengan kombinasi warna kuning. Menurut pendapat saya, foto di dalam berita tersebut bukanlah emas, memang warnanya seperti emas, tapi faktanya emas di alam sangat jarang sekali ditemukan berbongkah – bongkah seperti itu, karena proses pembentukan emas yang sangat rumit. Kebanyakan emas primer di alam (emas yang belum mengalami proses pelapukan dan pengendapan di sungai beserta pasir) umumnya tidak berwarna kuning seperti emas, tapi warnanya cendrung hitam, dan ukurannya sangat kecil sekali, seperti partikel dan berukuran < 0,001mm = 0,0000001 cm Karena pada penambangan emas, dalam setiap ton batuan hanya terkandung 3 gr – 15 gr emas. Untuk proses penambangan dan pengolahan emas tidaklah mudah dan berbiaya tinggi, untuk melakukan eksplorasi emas saja, di butuhkan waktu minimal 5 tahun dan butuh biaya yang besar, dan itupun tingkat keberhasilannya masih rendah. Begitupun juga dengan proses penambangan dan saat pengolahan emas, dibutuhkan proses yang panjang dan pengolahan yang rumit. Belum lagi limbah (tailing) yang bisa ditimbulkan dari kegiatan pertambangan, yang bisa merusak keseimbangan lingkungan.

    Menurut pendapat saya dari ciri – ciri dan foto yang ada didalam berita tersebut adalah mineral pirit atau FeS2, mineral ini tersebar merata di seluruh lapisan kerak bumi, dan bahkan batuan ini juga banyak terkandung didalam batubara. Jika batu ini terekspose ke permukaan, dan bereaksi bersama oksigen dan air, bisa menimbulkan air asam, atau pada tambang di istilahkan air asam tambang. Pirit (Fes2) merupakan salah satu dari jenis mineral sulfida yang umum dijumpai di alam, entah sebagai hasil sampingan suatu endapan hidrotermal ataupun sebagai mineral asesoris dalam beberapa jenis batuan. Tidak ada penciri mineralisasi tertentu jika anda menjumpai pirit, apalagi sedikit. Secara deskriptif, pirit ini mempunyai warna kuning keemasan dengan kilap logam. Jadi, kalau tidak biasa dengan mineral-mineral logam, sering menganggapnya sebagai emas. Secara struktur kristal, baik pirit dan emas sama-sama kubus, namun sifat dalamnya yang berbeda. Emas lebih mudah ditempa daripada pirit. Kalau dipukul, pirit akan hancur berkeping-keping, sedangkan emas tidak mudah hancur karena lebih mudah ditempa (maleable). Gambar dibawah ini ada lah contoh dari pirit :



    Jadi, emas di alam sangat sulit sekali di identifikasi secara kasat mata, karena untuk mengidentifikasinya harus melalui analisa laboratorium untuk menguji kandungan emas dan kadarnya berapa dalam setiap ton batuan. Masih banyak sekali batuan lainnya yang kilapnya seperti emas, tapi nyatanya itubukan lah emas. 

    Dilihat dari karakteristik alam kerinci, yang berada pada jalur lintasan gunung api dan bukit barisan, bisa saja ada kandungan emasnya,karena keterdapatan emas, terkait dengan pembentukan gunung api, tapi itu perlu kajian yang lebih mendalam, dan investasi eksplorasi yang tidaklah murah. 

    Untuk kegiatan pertambangan di kerinci, saya sangat tidak setuju, karena hal itu bisa merusak lingkungan, apalagi kerinci dikelilingi oleh TNKS. Mengenai PAD, memang betul dengan adanya kegiatan pertambangan di suatu daerah, bisa menambah PAD daerah, tapi apakah bisa mensejahterakan masyarakat..?? tidak juga, karena pada dasarnya masyarakat disekitar tambang hanya jadi pegawai rendahan saja, dan pastinya untuk tenaga ahli didatangkan dari luar. Jadi tidak benar dg adanya tambang, kehidupan masyarakat disekitarnya bisa lebih sejahtera, karena saya menyaksikan sendiri kehidupan masyarakat di kabupaten terkaya di Indonesia Kutai kertanegara – Kalimantan Timur, yang mengandalkan pemasukannya dari kegiatan pertambangan batubara dan migas, masih banyak sekali masyarakat yang tergolong miskin, karena yang kaya itu adalah para pendatang yang menjadi karyawan dikegiatan pertambangan. Belum lagi masalah lingkungan, apakah sebanding dengan kerusakan lingkungan yang di timbulkan, nyatanya PAD/ kontribusi kepada daerah dari kegiatan pertambangan tidaklah mampu menutupi kerugian rusaknya lingkungan. Kita lihat saja maraknya penambangan galian C di kerinci, walaupun itu bisa menambah pemasukan daerah, apakah sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan..?? apakah PAD tersebut bisa memperbaiki kondisi lingkungan yang telah rusak..?? pastinya tidak bisa.

    Untuk mensejahterakan masyarakat kerinci, masih banyak sekali cara lainnya selain kegiatan pertambangan, fokus saja dengan peningkatan pertanian dan pengembangan pariwisata, kita bisa melihat sendiri, kegiatan pariwisata bisa menopang suatu negara sebagai pemasukan utamanya, dan bisa mensejah terakan masyarakat, karena industry pariwisata melibatkan masyarakat langsung sebagai pelaku industry dan pariwisata bisa menjaga alam dan kebudayaan, karena yang dijual dalam industri pariwisata adalah alam dan kebudayan khas daerah, dan kerinci sudah memiliki itu semua. Tergantung keserisusan pemerintah dan kreativitas kepala daerah dalam mengembangkan industri pariwisata. Walaupun ada industri di kerinci, sebaiknya itu berupa industri yg ramah lingkungan seperti pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) ataupun pembangkit listrik tenaga air.

    Jangan menjual tanah surga kerinci yang subur dan kaya akan budaya dengan uang yang tidak seberapa. Dengan adanya kegiatan pertambangan, hanya berakibat buruk bagi masyarakat dan lingkungan, karena masyarakat hanya bisa menjadi penonton dan imbas dari kerusakan lingkungan, minimalnya debu tambang, sungai yang keruh dan mulai kering serta jalan yang rusak, seperti yang kita saksikan dg maraknya galian C di kerinci yang tidak dikontrol dengan baik. 


    Ditulis oleh: Medi Salpia ( Alumni Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya angkatan 2006) yang sekarang sudah lebih 3 tahun bekerja di industri pertambangan batubara dikalimantan. Dan sedang menempuh pendidikan Magister Teknik Pertambangan di Universitas Pembangunan “Veteran” Yogyakarta.


    Alamat di kerinci, di desa telago pulau Tengah.
    • Komentar G+
    • Komentar Facebook

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Benarkah Batu di Muara Emat Mengandung Emas? Rating: 5 Reviewed By: Adminn Kerincinews
    Scroll to Top
    //add jQuery library