• Pilihan

    Reformasi dan Ironinya

    Oleh : Mhd Fathria Alfaridzi
    Mahasiswa STIA NUSA Sungai Penuh 

    KERINCINEWS.COM, KERINCI - Reformasi merupakan suatu gerakan yang menghendaki andanya perubahan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ke arah yang lebih baik secara konstitusional. Artinya, adanya perubahan kehidupan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, dan budaya lebih baik, demokratis berdasarkan prinsip kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.

    Gerakan reformasi lahir sebagai jawaban atas krisis yang melanda berbagai segi kehidupan. Krisis politik, ekonomi, hukum, dan krisis sosial merupakan faktor–faktor yang mendorong lahirnya gerakan reformasi.

    Reformasi dipandang sebagai gerakan yang tidak boleh ditawar–tawar lagi dan karena itu, hampir seluruh rakyat Indonesia mendukung sepenuhnya gerakan yang dipelopori oleh mahasiswa. Pertanyaannya adalah apakah cita–cita reformasi sudah tercapai?

    Pada hari Kamis, 21 Mei 1998  tercatat sebagai salah satu momen penting dalam sejarah bangsa. Dimana  Presiden Soeharto menyatakan mundur dari tampuk kekuasaan setelah berkuasa selama 32 tahun lamanya.

     Setelah terjadinya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa, setelah perjuangan yang tak kenal lelah yang dilakukan oleh para mahasiswa, yang rela mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktu. Bahkan, yang meregang nyawa dikarenakan tindakan represif yang tidak ber-perikemanusiaan yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam mengatasi  aksi mahasiswa dan mengubah aksi damai menjadi tragedi.

    Lalu bagaimana wajah reformasi kita pada hari ini? Hari ini kita telah mundur jauh kebelakang dimana masih banyak kebijakan–kebijakan yang diambil oleh rezim yang berkuasa yang tidak memihak kepada rakyat. Dimana kita masih dipertontonkan perebutan kekuasaan oleh elit-elit politik yang haus akan kekuasaan, dimana kebebasan berkumpul, berpendapat, dan berekspresi masih dalam ancaman.

    Dimanan aksi–aksi mahasiswa yang menyampaikan aspirasi dan berjuang atas nama rakyat malah dibalas dengan tindakan represif, tindakan yang tidak bermoral, tindakan yang sewenang-wenang oleh aparat keamanan yang katannya melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.

    Inilah kualitas demokrasi yang dibangun berdasarkan obsesi kepentingan sesaat, politisi jadi-jadian takut akan ide-ide segar, takut pada beragamnya kultur dalam membangun bangsa. Maka perbedaan menjadi musuh mereka bersama. Namun karena para pemimpin nasional terlalu takut bertindak menyelamatkan bangsa dan rakyat, jadilah kita negeri tanpa nasib. Krisis kepemimpinan ini melahirkan penyakit–penyakit turunan: perekonomian nasional tak kunjung membaik, kemiskinan, pengangguran, dan kekerasan kian merajalela.

    Sesungguhnya produk terbesar pemerintahan era reformasi hanyalah terasa asing. Orang mulai terasing dari negara, lingkungan, nilai–nilai dasar kemanusiaan, dan akar tradisi budayanya. Terasing karena ketidakhadiran pemerintah di tengah deru penderitaan rakyat.

    Pemerintah hasil reformasi ternyata belum memiliki rencana besar buat bangsa ini agar sampai pada cita–cita dasarnya: keadilan sosial dan kesejahteraan. Dengan kata lain, pemerintah hasil reformasi belum menegakkan amanat dan cita–cita mulia reformasi. Gelombang besar reformasi politik baru menghasilkan “Mediokrasi/kedangkalan” berpolitik dan “Political broker” bengis.

    David Hill (1987) menulis bahwa ketika suatu negara lebih berambisi pada menata politik, nalar harus sadar bahwa politik akan selalu menemukan logikanya sendiri. Politik sebagai panglima akan menyeret tenaga, pikiran, dan terkadang menenggelamkan cita–cita masyarakat sejahtera. Yang tersisa adalah bagaimana kekuasaan dipertahankan dengan segala cara dengan menafikkan cita–cita lain.

    Indonesia saat ini masih butuh waktu untuk mengimplentasikan cita–cita mulia reformasi, demi terwujudya tatanan kehidupan bernegara yang lebih baik lagi. Oleh karena itu reformasi harus menyeluruh hingga ke partai politik, yang menjadi hulu korupsi politik.

    Ironi yang lahir dari reformasi menjadi pekerjaan tambahan yang harus dibereskan. Oleh karena itu reformasi perlu pembaruan semangat, Nyalanya tak boleh padam.




    • Komentar G+
    • Komentar Facebook

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Reformasi dan Ironinya Rating: 5 Reviewed By: Afyan tori
    Scroll to Top
    //add jQuery library